Sengketa Lahan: Siswi SD Semarang Lewati Sungai ke Sekolah

Sengketa Lahan Bikin Siswi SD Semarang Harus Menyeberangi Sungai untuk Pergi ke Sekolah

Seorang siswi Sekolah Dasar (SD) berinisial JES (8) dari SDN 01 Sampangan, Kota Semarang, Jawa Tengah, menjadi sorotan publik setelah videonya viral di media sosial. Bukan karena prestasi di kelas, melainkan karena setiap hari ia harus melewati jalur sempit di tepi sungai untuk sampai ke sekolah. Bersama ibunya, Imelda Tobing, JES menempuh rute yang jauh dari kata aman lantaran akses utama menuju rumah mereka ditutup akibat sengketa lahan.

Akses Sekolah Tertutup, Jalur Sungai Jadi Pilihan

Perjalanan JES ke sekolah kini berubah menjadi tantangan harian. Jalan yang biasa dipakai keluarga itu tak lagi bisa dilalui setelah akses utama ditutup oleh pihak yang bersengketa. Akibatnya, ibu dan anak ini terpaksa menyusuri area pinggir sungai dengan kondisi tanah yang terjal dan basah. Situasi tersebut jelas menyulitkan, terlebih bagi seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Rumah keluarga JES berada di kawasan tepi sungai, dengan sisa akses yang disebut hanya sekitar satu meter. Jalur sempit itu menjadi satu-satunya pilihan setelah jalan utama tak lagi bisa digunakan. Kondisi ini membuat aktivitas sederhana seperti berangkat sekolah berubah menjadi risiko yang harus dihadapi setiap hari.

Berawal dari Pembelian Lahan yang Berujung Sengketa

Masalah ini bermula dari pembelian lahan oleh ayah JES, Juladi Boga Siagian. Namun, setelah pemilik sebelumnya meninggal dunia, tanah tersebut berubah menjadi sengketa. Pihak yang mengklaim sebagai pemilik sah adalah Sri Rejeki, adik kandung dari pemilik sebelumnya, yang menyebut memiliki sertifikat resmi atas lahan itu.

Di sisi lain, Paung mengakui adanya kekeliruan dan telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Meski begitu, ia mengajukan banding dan masih mempertanyakan luas lahan yang dianggap diserobot. Proses hukum memang berjalan, tetapi di lapangan, dampaknya sudah lebih dulu dirasakan keluarga yang tinggal di area tersebut.

Pihak Keluarga Masih Berjuang Mencari Akses

Pengacara Sri Rejeki, Roberto Sinaga, menyebut penutupan akses jalan dilakukan sebagai langkah preventif. Namun bagi keluarga Paung, penjelasan itu tidak mengubah kenyataan bahwa mereka kini harus mencari jalan lain untuk keluar masuk rumah. Sengketa yang berlangsung bertahun-tahun itu belum juga menghasilkan kesepakatan antara kedua pihak.

Sejumlah warga menyebut konflik ini sudah terjadi sejak 2019. Selain persoalan lahan, kasus tersebut juga memunculkan jarak sosial antara keluarga Paung dan lingkungan sekitar. Hingga kini, polemik itu belum menemukan titik damai, sementara JES tetap harus melewati jalur sungai setiap kali berangkat dan pulang sekolah.

Di tengah proses hukum yang masih berjalan, kondisi anak usia 8 tahun itu menjadi gambaran paling nyata dari dampak sengketa lahan yang tak kunjung selesai.