Sengketa Lahan: Siswi SD Semarang Lewati Sungai ke Sekolah

Seorang siswi Sekolah Dasar (SD) berinisial JES (8) dari SDN 01 Sampangan, Kota Semarang, Jawa Tengah, menjadi viral di media sosial karena harus menyusuri sungai setiap harinya untuk pergi sekolah. Bersama ibunya Imelda Tobing, mereka melewati jalanan terjal dan basah di pinggiran sungai karena akses utama ke sekolah ditutup akibat sengketa lahan. Kasus ini bermula dari pembelian lahan oleh ayah JES, Juladi Boga Siagian, yang kemudian menjadi sengketa setelah pemilik sebelumnya meninggal dunia.

Dalang di balik sengketa ini adalah Sri Rejeki, adik kandung pemilik sebelumnya, yang mengklaim sebagai pemilik sah berdasarkan sertifikat resmi. Meskipun Paung mengakui kesalahannya dan telah diputus bersalah oleh pengadilan, dia mengajukan banding dan mempertanyakan jumlah lahan yang diserobot. Terlepas dari proses hukum, akses jalan yang selama ini digunakan oleh keluarga Paung ditutup oleh pihak Sri Rejeki.

Kondisi ini memaksa JES dan keluarganya untuk menyusuri sungai setiap hari, menghadapi bahaya dan ketidaknyamanan. Meskipun pengacara Sri Rejeki, Roberto Sinaga, menegaskan bahwa tindakan menutup akses jalan adalah langkah preventif, namun keluarga Paung masih berjuang untuk mendapatkan akses tersebut. Sengketa lahan yang berlangsung bertahun-tahun ini akhirnya sampai pada titik di mana baik pihak keluarga Paung maupun Sri Rejeki tidak mencapai kesepakatan.

Pantauan terbaru menunjukkan bahwa rumah keluarga Paung terletak di tepi sungai, dengan akses sekitar 1 meter yang harus mereka lewati setelah akses utama ditutup. Konflik ini, menurut sejumlah warga setempat, sudah terjadi sejak 2019 dan juga menyoroti kurangnya interaksi sosial dari pihak Paung dengan warga sekitar. Semua pihak berharap agar sengketa lahan ini dapat diselesaikan dengan baik tanpa menimbulkan dampak yang merugikan kedua belah pihak.

Source link