Perceraian Ruben Onsu dan Sarwendah Tan telah diputus sejak 24 September 2024. Namun, berakhirnya status perkawinan mereka belum menutup seluruh persoalan yang muncul setelahnya. Sejumlah kesepakatan terkait anak dan harta kini justru berkembang menjadi perkara hukum baru.
Terbaru, Sarwendah mengajukan gugatan terhadap Ruben Onsu ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Gugatan itu berkaitan dengan dugaan wanprestasi dalam pelaksanaan Akta Notaris Nomor 39. Salah satu kewajiban yang menjadi sorotan ialah pembayaran cicilan dua rumah, yang disebut mencapai sekitar Rp300 juta setiap bulan.
Perkara tersebut membuat hubungan keduanya kembali menjadi perhatian. Persoalan yang dihadapi bukan lagi mengenai status perkawinan, melainkan pelaksanaan kewajiban yang disebut telah disepakati setelah perceraian.
Perceraian Diputus secara Verstek
Ruben dan Sarwendah mulai dekat pada 2012, ketika Sarwendah masih menjadi anggota Cherrybelle. Keduanya kemudian menikah di Bali pada 22 Oktober 2013.
Dari pernikahan itu, mereka memiliki dua anak perempuan, Thalia Putri Onsu dan Thania Putri Onsu. Keduanya juga membesarkan Betrand Peto Putra Onsu, yang dikenal dengan sapaan Onyo, sebagai bagian dari keluarga.
Setelah menjalani rumah tangga selama beberapa tahun, Ruben mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Juni 2024. Perceraian mereka kemudian dinyatakan resmi pada 24 September 2024 melalui putusan verstek, yakni putusan yang dijatuhkan tanpa kehadiran pihak tergugat.
Putusan tersebut tidak sekaligus menyelesaikan persoalan harta maupun pengasuhan anak. Kedua hal itu berjalan dalam proses hukum yang berbeda. Setelah perceraian, kesepakatan yang sebelumnya dibuat bersama menjadi bagian penting dalam persoalan lanjutan antara Ruben dan Sarwendah.
Persoalan Pertemuan dengan Anak
Selain perkara terkait aset dan akta notaris, pengaturan waktu pertemuan Ruben dengan anak-anaknya juga ikut mencuat. Pihak Ruben menyebut ia mengalami kesulitan untuk bertemu anak sejak akhir 2025.
Pada Juni 2026, Ruben menyampaikan keinginannya agar dapat menghabiskan waktu bersama kedua putrinya. Ia mengatakan, pengaturan mengenai waktu bersama anak sebenarnya sudah ada, tetapi pelaksanaannya tidak selalu berjalan sesuai harapan.
“Yang saya mau, saya maunya saya jalan sama anak-anak saya aja. Itu aja yang gak dapet-dapet poinnya,” kata Ruben pada Juni 2026.
Rangkaian persoalan tersebut memperlihatkan bahwa kesepakatan pascaperceraian masih menjadi isu yang belum sepenuhnya selesai. Di satu sisi, terdapat kewajiban finansial yang kini dipersoalkan melalui gugatan wanprestasi. Di sisi lain, pengaturan pertemuan dengan anak juga masih menjadi perbincangan setelah keduanya resmi berpisah.

