Candi Carpenter merilis EP alt-rock berisi enam lagu, Reincarnation, sebagai proyek musik sekaligus visual yang menelusuri perubahan identitas, pencarian seksualitas, proses penyembuhan, dan pengalaman meninggalkan lingkungan keagamaan yang dianggap merugikan. Bagi penyanyi, penulis lagu, produser, dan seniman multidisipliner queer serta autistik itu, reinkarnasi bukan semata gagasan spiritual, melainkan gambaran tentang manusia yang terus berubah sepanjang hidupnya.
“Setiap hari sekitar satu persen dari tubuh kita mati. Sebagian besar yang mati akan beregenerasi. Dalam satu kehidupan, kita bisa menjadi banyak orang yang berbeda. Saya percaya pada reinkarnasi karena setiap hari saya adalah orang yang berbeda,” ujar Carpenter.
Dari musik gospel ke alt-rock
Carpenter tumbuh dalam keluarga pendeta Christian Missionary Alliance. Sejak kecil, ia dikenal sebagai prodigy musik gospel dan tampil bersama band keluarganya, The Carpenter’s, di berbagai gereja di wilayah Midwest, Amerika Serikat. Setelah lulus sekolah menengah dan pindah ke Nashville, ia mulai membangun karier profesional dengan tampil bersama sejumlah legenda Grand Ole Opry.
Perjalanan itu membawanya ke tangga lagu country Billboard dan panggung Grand Ole Opry. Namun, pengalaman tersebut kini diolah kembali melalui karya yang memiliki arah musikal dan visual jauh berbeda. Sebelum Reincarnation, Carpenter merilis debut alt-pop Demonology pada 2024. Proyek tersebut mendapat sambutan dari komunitas musik independen.
Nama Carpenter juga mendapat pengakuan dari sejumlah tokoh dan media. Dolly Parton menyebutnya sebagai salah satu penulis lagu terbaik yang pernah ia dengar. Brandi Carlile, yang pernah menjadi produser sekaligus kolaborator Carpenter, memuji kemampuan vokal dan kekuatan narasinya. Rolling Stone menggambarkannya sebagai penyanyi yang lugas dengan sikap kritis yang kuat, sedangkan To The Point Music menyebutnya sebagai talenta langka.
Carpenter pernah tampil di BBC 2, Good Morning Britain, TLC, NBC, dan sejumlah jaringan televisi besar lainnya. Karya-karyanya di media sosial juga telah mengumpulkan ratusan juta penayangan.
Musik, film, dan dunia “pelangi yang kotor”
Melalui Reincarnation, Carpenter memperluas eksplorasinya ke musik, film, akting, dan penciptaan dunia visual yang lebih gelap serta eksentrik. Dengan anggaran produksi independen, ia dan teman-temannya membuat film pendek yang terhubung dengan keenam lagu dalam EP. Setiap lagu memiliki video masing-masing, lalu dirangkai menjadi satu cerita berlatar dunia yang dipenuhi sampah dan zombie.
Untuk kebutuhan produksi, mereka bahkan membuat tempat pembuangan sampah di dalam sebuah gudang. Seluruh materi visual direkam dalam waktu sekitar satu minggu. Carpenter menyebut dunia tersebut sebagai “pelangi yang kotor”, dengan simbol-simbol yang dibuat lugas dan warna yang berubah mengikuti perkembangan cerita.
Enam lagu di dalamnya membawa tema yang beragam, mulai dari kematian, kapitalisme, ketakutan, simulasi realitas, seksualitas, agama, hingga pemberontakan. EP dibuka dengan “Reincarnation”, refleksi atas identitas yang terus berubah. “Little Freak” membahas kapitalisme dan gagasan tentang sesuatu yang mudah dibuang, sementara “The Fear of Being Human Remains” mengeksplorasi ketakutan terhadap kesadaran dan pengalaman menjadi manusia.
“Inside the Simulation” mempertanyakan realitas melalui pengalaman Carpenter di lingkungan evangelikal. “Biblically Accurate Angel” mengangkat seksualitas, rasa malu, serta pengalaman ketika sesuatu yang dianggap suci justru dipandang menakutkan. EP ini ditutup “American God”, lagu paling konfrontatif yang menolak sistem kepatuhan dan peran yang dipaksakan kepada individu. Lagu tersebut berakhir dengan kalimat, “Saya adalah gereja saya sendiri.”
Pengalaman tumbuh di lingkungan Evangelikal menjadi salah satu landasan penting proyek ini. Setelah meninggalkan lingkungan tersebut, Carpenter menyusun kembali pemahamannya tentang diri sendiri, termasuk bagian-bagian yang sebelumnya dikaitkan dengan rasa takut dan rasa bersalah.
“Saya membuat karya untuk mengupas diri saya sendiri. EP ini memberi saya kesempatan mencoba genre yang dulu tidak diperbolehkan ketika saya tumbuh di gereja,” katanya.
Jane Wiedlin dari The Go-Go’s turut tampil dalam film pendek Reincarnation. Ia memuji Carpenter sebagai sosok kreatif dengan kemampuan musik dan lirik yang luar biasa. “Candi benar-benar memiliki sesuatu yang istimewa. Film pendek baru mereka sangat orisinal dan penuh dengan gagasan,” ujar Wiedlin.
Sesudah perilisan EP, Carpenter akan menjalani tur bersama Moselle di seluruh Amerika Serikat. Tur tersebut dimulai dari konser perilisan di Nashville pada 12 September, dengan pertunjukan sinematik dan elemen visual yang terinspirasi tema Reincarnation.
“Saya ingin pertunjukan saya menjadi tempat yang aman bagi mereka yang sedang mencari komunitas yang hilang saat mereka menemukan diri mereka sendiri. Harapan saya, semua orang pulang dengan perasaan tidak terlalu sendirian,” kata Carpenter.

