Temarram merangkum lima tahun perjalanan musikalnya melalui Antara Angkara, album penuh pertama yang dirilis pada 11 September 2026. Berisi delapan lagu, karya terbaru unit synthwave, darkwave, dan post-punk asal Jakarta ini menelusuri keruntuhan diri, kehilangan, amarah, penyesalan, hingga harapan yang tersisa.
Album tersebut menjadi kelanjutan diskografi Temarram sejak terbentuk pada 2021. Grup yang diperkuat Regga Prakarso pada gitar dan programmed synthesizer, Sherina Redjo sebagai vokalis, serta Tanthowi pada bass itu sebelumnya merilis EP Montase pada 2022 dan Selubung Abadi pada 2023. Salah satu materi dalam album, “Pusara”, lebih dahulu diperkenalkan sebagai single pada 2025.
Melalui musik, Temarram menjadikan sisi rapuh kehidupan sebagai bahan katarsis. Pendekatan itu kembali menjadi dasar Antara Angkara, dengan rangkaian cerita mengenai manusia yang harus menghadapi konsekuensi dari pilihan dan ambisinya sendiri. Kehancuran dalam album ini tidak ditempatkan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan proses yang perlahan mengikis kehidupan dan memunculkan pertanyaan tentang apa yang masih dapat dipertahankan.
Delapan lagu dalam satu rangkaian cerita
Perjalanan album dibuka oleh “Dan Kau Terlunta”, yang menggambarkan penyesalan ketika ambisi mulai merusak kehidupan. Cerita kemudian bergerak ke “Reruntuh”, sebuah lagu tentang mimpi yang terpaksa ditinggalkan karena rutinitas.
Pada “Aksioma”, Temarram menghadirkan Gerry Lainil Fauzi dari Dirty Ass. Energi vokalnya digunakan untuk menyampaikan kemarahan yang lahir dari hubungan dan perpisahan. Setelah itu, “Pusara” membawa pendengar memasuki ruang yang lebih introspektif, terutama mengenai kesadaran bahwa manusia dapat terperangkap dalam bencana yang diciptakannya sendiri.
“Tak Tergenggam” melanjutkan perenungan tersebut lewat kenyataan bahwa tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh apa yang diinginkan. Di antara tema-tema keruntuhan itu, “Semesta Semesta” menawarkan secercah harapan.
Suasana kembali menggelap dalam “Afeksi dan Mati”, yang menampilkan Otong Koil. Karakter vokal Otong yang mencekam memperkuat rasa getir ketika manusia dipaksa berhadapan dengan kenyataan. Album lantas ditutup oleh “Pengakhiran Permulaan”, sebuah isyarat bahwa akhir tidak selalu berarti segalanya berhenti karena kemungkinan untuk memulai kembali masih terbuka.
Kolaborasi musik dan visual
Dalam pengerjaan Antara Angkara, Temarram menggandeng Pandu Fuzztoni sebagai produser sekaligus kolaborator. Pandu membantu menerjemahkan gagasan grup ke dalam bentuk musikal serta membuka ruang eksperimen yang lebih luas tanpa menghilangkan karakter utama Temarram.
Selain menangani produksi, Pandu memainkan gitar penuh noise pada “Pengakhiran Permulaan”. Kontribusi tersebut melengkapi keterlibatan Gerry Lainil Fauzi dalam “Aksioma” dan Otong Koil pada “Afeksi dan Mati”, menjadikan kolaborasi sebagai bagian penting dari karakter album.
Identitas visual Antara Angkara dikerjakan oleh Suvi Karjalainen, seniman asal Finlandia. Ia menggambarkan sebuah ruang tempat manusia bersimpuh, selaras dengan tema album tentang seseorang yang berhenti sejenak di tengah kehancuran untuk meninjau kembali apa yang masih tersisa.
Dengan delapan lagu tersebut, album penuh perdana Temarram memotret berbagai tahap perjalanan manusia—mulai dari kehilangan dan kemarahan, berlanjut menuju penyesalan dan penerimaan, hingga menemukan kemungkinan baru di antara reruntuhan.

