Review Album Debut Underdog oleh Joy Menutup 2025
Menjelang akhir 2025, Untitled Joy merampungkan perjalanan panjang yang selama ini mereka bangun lewat rilis bertahap. Band asal Yogyakarta itu akhirnya melepas album penuh perdana bertajuk Underdog, sebuah karya berisi 11 lagu yang terasa seperti ringkasan dari hampir dua dekade kebersamaan mereka. Album ini tidak diposisikan sebagai selebrasi kemenangan, melainkan sebagai catatan jujur tentang waktu, kegelisahan, dan cara bertahan ketika hidup tak selalu memberi posisi di barisan depan.
Album yang lahir dari fase panjang
Sejak awal, Untitled Joy dikenal konsisten menggarap tema kecemasan, kekalahan, dan pergulatan batin. Di Underdog, tema-tema itu tetap hadir, tetapi dengan sudut pandang yang lebih matang. Kekalahan tidak lagi dibaca sebagai akhir, melainkan bagian dari kenyataan yang harus diterima. Ada jarak yang lebih tenang saat band ini memandang jatuh bangun hidup, seolah mereka ingin berkata bahwa tersandung bukan alasan untuk berhenti melangkah.
Didirikan di Yogyakarta pada 2009, Untitled Joy kini digerakkan oleh Nico Okada pada vokal, Adi Ripa dan Bagus Handy pada gitar, Riyan Kresnandi pada bass, serta Bagus Tomo pada drum. Sebelum merilis album ini, mereka sudah lebih dulu memperkenalkan dua mini album dan sejumlah single. Karena itu, Underdog terasa seperti titik temu dari semua fase yang pernah mereka lewati.
Post-punk gelap yang lebih terkendali
Secara musikal, akar post-punk gelap dan intens masih menjadi fondasi utama. Namun, pengalaman panjang membuat Untitled Joy terdengar lebih rapi dalam mengatur ledakan emosi dan dinamika lagu. Distorsi tetap tebal, tempo kerap melaju cepat, dan ritme sesekali sengaja dibiarkan terasa goyah. Di balik semua itu, ada lirik-lirik yang justru menyimpan dorongan optimistis, meski dibungkus nada pesimis.
Underdog juga menangkap kegelisahan generasi yang hidup tanpa kepastian arah. Album ini tidak berusaha memberi jawaban besar. Sebaliknya, ia menampilkan ketidakpastian, kebingungan, keputusan impulsif, dan momen kehilangan arah sebagai sesuatu yang sangat manusiawi. Di titik ini, Untitled Joy tidak terdengar menggurui, melainkan mengajak pendengar berdiri di ruang yang sama: ruang abu-abu tempat banyak orang sebenarnya hidup.
Pernyataan sikap, bukan sekadar debut
Yang membuat Underdog terasa lebih dari sekadar album debut adalah sikap yang dibawanya. Untitled Joy tampak menolak dua label ekstrem sekaligus: mereka tidak ingin dipuja sebagai pemenang yang selalu rapi, tetapi juga tidak mau ditempatkan sebagai pecundang. Album ini memilih berdiri di tengah, di wilayah yang tidak glamor, namun justru paling dekat dengan kenyataan sehari-hari.
Dengan pendekatan itu, Underdog menjadi karya yang jujur tanpa perlu banyak hiasan. Ia merangkum ketidaksempurnaan, menerima kekalahan sebagai bagian dari hidup, dan memberi ruang bagi manusia biasa untuk tetap dianggap utuh meski tidak selalu menang. Dalam konteks diskografi Untitled Joy, album ini bukan hanya pencapaian penting, melainkan juga penegasan identitas yang selama ini mereka rawat dengan konsisten.

