Yumi Zouma kembali menarik perhatian lewat pengumuman album penuh terbaru mereka, No Love Lost to Kindness, yang dijadwalkan rilis pada 30 Januari melalui Nettwerk. Bersamaan dengan kabar itu, kuartet pop alternatif ini merilis single anyar bertajuk “95” lengkap dengan video musik, seolah memberi cuplikan awal tentang arah emosional yang akan dibawa di album kelima mereka.
“95” dan rasa gamang di antara mimpi dan kenyataan
Alih-alih tampil meledak, “95” justru bergerak pelan dan kontemplatif. Lagu ini dibaca sebagai refleksi tenang tentang jarak antara harapan dan kenyataan, tentang saat seseorang mulai mempertanyakan apakah jalan yang dipilih masih benar. Gitaris Josh Burgess menggambarkannya sebagai potret momen ketika dorongan untuk terus mengejar sesuatu berbenturan dengan keinginan untuk berhenti sejenak dan menarik napas.
Nuansa itu terasa sejalan dengan identitas Yumi Zouma, yang selama ini dikenal piawai meramu emosi personal ke dalam pop alternatif yang hangat, rapuh, dan tetap mudah menyelinap di kepala pendengar. “95” menjadi salah satu penanda bahwa album baru mereka tidak sekadar mengandalkan melodi manis, tetapi juga membawa lapisan keresahan yang lebih dalam.
Album baru setelah jeda rilisan penuh
No Love Lost to Kindness menjadi album penuh pertama Yumi Zouma sejak Present Tense pada 2022. Setelah itu, mereka sempat merilis EP IV pada 2023, sebelum kembali membangun momentum lewat serangkaian single baru. Di antaranya adalah “Bashville on the Sugar”, “Blister”, dan “Cross My Heart and Hope to Die”, yang lebih dulu membuka karakter album ini.
Mereka juga merilis “Drag”, lagu yang menyoroti pengalaman vokalis Christie Simpson saat menghadapi diagnosis ADHD. Kehadiran lagu-lagu tersebut memperlihatkan bahwa album ini disusun bukan hanya sebagai kumpulan track, melainkan sebagai rangkaian cerita yang saling terhubung.
Rekaman di Mexico City dan jarak yang ikut membentuk musik
Album No Love Lost to Kindness diproduseri oleh Josh Burgess dan Charlie Ryder, lalu direkam di Mexico City. Proses kreatifnya disebut berlangsung di tengah periode yang penuh gesekan bagi band ini. Meski para personelnya kini tersebar di berbagai kota di dunia, jarak fisik justru ikut memberi warna pada materi yang mereka hasilkan.
Situasi itu tampak tercermin dalam nada-nada yang lebih jujur, ketegangan yang terasa sengaja dibiarkan hidup, serta upaya untuk tetap menjaga koneksi di tengah ritme hidup yang terpisah. Dari “95” hingga lagu-lagu yang sudah lebih dulu dirilis, Yumi Zouma tampaknya sedang menulis bab baru yang lebih personal tanpa kehilangan sentuhan pop yang selama ini menjadi ciri mereka.
Source link

