Warga binaan Lapas Kelas IIA Kendal menandai hari kelima Ramadan dengan capaian yang tak biasa: khatam Alquran 30 juz. Di tengah rutinitas lembaga pemasyarakatan, 15 warga binaan bergiliran melantunkan ayat suci di Masjid Al Huda, kompleks Lapas Kelas IIA Kendal, dalam rangka tadarus yang digelar sejak awal Ramadan.
Tadarus Bergilir dari Pagi hingga Malam
Kegiatan membaca Alquran itu berlangsung setiap hari dengan pembagian waktu yang tertib. Para warga binaan membaca secara bergantian pada pagi hari hingga sebelum zuhur, dilanjutkan siang sampai sebelum Asar, lalu kembali pada malam hari setelah salat tarawih hingga pukul 21.00 WIB. Pola ini membuat rangkaian tadarus tetap berjalan tanpa mengganggu ibadah lainnya selama Ramadan.
Menurut Kasi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Binadik) Lapas Kelas IIA Kendal, Andi Rahmanto, total penghuni lapas mencapai 317 narapidana. Namun, hanya 15 narapidana yang dipilih melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) untuk mengikuti tadarus di Masjid Al Huda. Selama lima hari, mereka berhasil menuntaskan bacaan 30 juz secara bersama-sama.
Ramadan Jadi Ruang Pembinaan
Andi menyebut kegiatan ini akan terus berlangsung selama satu bulan penuh. Ia berharap tadarus Alquran tidak berhenti sebagai agenda seremonial Ramadan, tetapi benar-benar memberi pengaruh positif bagi warga binaan, terutama dalam membangun ketenangan batin dan memperkuat keimanan.
Di Lapas Kelas IIA Kendal, tadarus juga berjalan beriringan dengan salat tarawih berjamaah. Suasana Ramadan pun terasa lebih hidup di dalam lapas, dengan aktivitas ibadah yang tersusun sejak pagi hingga malam.
Harapan Setelah Bebas
Salah satu warga binaan, Sri Sumali, yang tersandung kasus tindak pidana korupsi PTSL, mengaku senang bisa ikut meramaikan Ramadan di dalam lapas. Ia berharap tadarus menjadi jalan untuk lebih dekat kepada Allah dan memperbaiki kualitas ibadah selama menjalani masa pembinaan.
Sri Sumali juga menyampaikan harapan agar setelah kembali ke masyarakat, para warga binaan tetap bisa menjaga ibadah dengan baik dan diterima kembali di lingkungan sosial. Baginya, Ramadan di balik jeruji bukan sekadar menjalankan kewajiban agama, tetapi juga momentum untuk memulai perbaikan diri.
Penulis: Wahyudi
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat
Source link

