Bukan Sekadar Label, Ini Pentingnya Halal Saat Belanja

Pertimbangan konsumen terhadap produk halal kini melampaui urusan makanan dan minuman. Kehalalan, kualitas, harga, transparansi, serta nilai yang dibawa sebuah merek semakin ikut menentukan keputusan pembelian, terutama ketika gaya hidup halal mulai melekat pada keseharian generasi muda.

Sekretaris Utama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Muhammad Aqil Irham, mengatakan peningkatan kesadaran tersebut membuat pelaku usaha perlu menempatkan aspek halal sebagai bagian dari kebutuhan konsumen. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Top Halal Award 2026 yang digelar IHATEC Marketing Research di Jakarta, Rabu, 23 September 2026.

“Tren kesadaran halal semakin tinggi. Kalau tidak memenuhi maka akan ditinggalkan konsumen,” kata Aqil.

Generasi muda menilai lebih dari sekadar label

Menurut Aqil, perubahan perilaku konsumen juga terlihat pada kelompok milenial dan Generasi Z. Mereka tidak hanya memeriksa ada atau tidaknya aspek halal dalam suatu produk, tetapi turut mempertimbangkan kualitas dan harga sebelum menentukan pilihan.

Kondisi tersebut membuat label halal memiliki fungsi yang lebih luas bagi konsumen. Label itu dapat menjadi informasi yang membantu masyarakat memilih produk yang dinilai sesuai dengan kebutuhan serta gaya hidup mereka.

Bagi pelaku usaha, perkembangan ini berarti halal tidak cukup dipandang sebagai persoalan administratif. Produk yang ditawarkan perlu menjawab pertimbangan konsumen secara lebih menyeluruh, termasuk dari sisi mutu dan harga.

Persaingan di pasar halal juga semakin luas. Aqil menyebut Brasil, China, Italia, Amerika Serikat, dan Rusia sebagai sejumlah negara yang turut menjadi eksportir produk halal. Perkembangan tersebut membuat pelaku usaha Indonesia berhadapan dengan kompetisi dari berbagai negara.

Ruang lingkup halal meluas ke produk gaya hidup

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya, mengatakan relevansi nilai halal kini menjangkau lebih banyak sektor. Selain makanan dan minuman, konsep tersebut hadir dalam fesyen, kosmetik, perawatan diri, serta berbagai produk gaya hidup.

Menurut Riefky, ekonomi kreatif dapat membantu meningkatkan daya tarik produk halal Indonesia. Kreativitas, desain, cerita di balik produk, dan kekuatan merek dinilai dapat memberi nilai lebih sehingga produk tidak berhenti pada pemenuhan standar.

“Di sinilah ekonomi kreatif memiliki peran besar, bagaimana kreativitas, storytelling, desain dan kekuatan jenama bisa membawa produk Indonesia naik kelas. Dari sekadar memenuhi standar menjadi produk yang dipercaya, diminati dan berdaya saing,” katanya.

Perkembangan gaya hidup halal menunjukkan bahwa keputusan membeli semakin dipengaruhi oleh gabungan sejumlah faktor. Aspek kehalalan tetap menjadi perhatian, tetapi konsumen juga mencari produk yang berkualitas, memiliki harga yang sesuai, serta mampu menawarkan identitas dan nilai yang kuat.

Source link