Basajan Rilis Video Musik “Nadoman” dengan Estetika Analog yang Penuh Kenangan
Basajan kembali memperluas semesta kreatif dari album debut ‘Béwara‘ lewat perilisan video musik “Nadoman”. Video ini bukan hanya sebagai pelengkap lagu, tetapi sebuah perjalanan ke dalam ingatan yang familiar bagi banyak orang Sunda, terutama bagi mereka yang tumbuh dengan tradisi mengaji di surau, langgar, atau musala kampung.
Perjalanan ke Masa Silam Melalui Estetika Analog
“Nadoman” merupakan salah satu lagu dalam ‘Béwara’ yang mengangkat konsep Buana Nyungcung, wilayah spiritual dalam filosofi Tri Tangtu. Melalui karya ini, Basajan menghadirkan potret tentang masa ketika lantunan nadoman menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terdengar mengiringi anak-anak yang belajar membaca Al-Qur’an di ruang-ruang sederhana yang kini perlahan mulai jarang ditemui.
Gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam video musik dengan cara yang unik. Basajan memilih menggunakan film analog hitam-putih 8 mm sebagai medium utama. Hasilnya bukan hanya visual bergaya retro, tetapi pengalaman sinematik yang hangat, rapuh, dan penuh kerinduan. Grain kasar, goresan alami, dan ketidaksempurnaan gambar justru menjadi kekuatan yang membawa penonton seolah membuka kembali album kenangan lama.
Proses Produksi yang Penuh Tantangan
Salah satu aspek paling menarik dari video “Nadoman” terletak pada proses produksinya. Seluruh gambar direkam menggunakan gulungan film hitam-putih 8 mm yang telah kedaluwarsa lebih dari empat dekade. Setelah proses pengambilan gambar selesai, film dicuci secara mandiri menggunakan teknik DIY processing, kemudian didigitalisasi dan disunting oleh Badrus Zeman di Lab Studio 50ftCinema.
Keputusan menggunakan material lama tentu menyimpan risiko teknis. Tapi justru di situlah letak daya tariknya. Setiap bintik, noda, hingga perubahan kontras yang muncul secara alami memberi karakter visual yang sulit direplikasi melalui teknologi digital modern. Video ini terasa hidup karena membiarkan medium analog menunjukkan usianya.
Sebagai karya visual, “Nadoman” menunjukkan keberanian Basajan untuk tidak terjebak dalam pola video musik yang cepat dan penuh efek. Ritmenya mengalir dengan tenang, memberikan ruang bagi setiap adegan untuk dinikmati. Penonton diajak menikmati detail demi detail tanpa harus terus dibombardir pergantian gambar yang agresif.
Sebagai pelengkap album ‘Béwara’, “Nadoman” memperlihatkan bahwa Basajan tidak hanya menaruh perhatian pada komposisi musik, tetapi juga pada cara sebuah cerita diterjemahkan ke dalam medium visual. Hasilnya adalah karya yang mampu membangkitkan rasa rindu terhadap ruang-ruang sederhana yang pernah membentuk nilai, spiritualitas, dan identitas budaya masyarakat Sunda. Video musik “Nadoman” kini telah tersedia melalui kanal YouTube resmi Basajan.

