Ngertakeun Bumi Lamba XVIII Menginspirasi Langkah Konservasi Berkelanjutan

Perubahan besar untuk bumi tidak tergantung pada generasi yang akan datang, melainkan pada kebijakan dan pilihan tegas yang kita lakukan saat ini. Menyaksikan ancaman krisis iklim serta hutan yang makin rusak, menjaga lingkungan kini menjadi keharusan, bukan lagi sekadar pilihan pribadi. Tanggung jawab ini adalah warisan yang harus diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Semangat pelestarian alam itu mengalir deras dalam pelaksanaan upacara adat Ngertakeun Bumi Lamba XVIII yang diadakan di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Subang. Dalam event tersebut, para tokoh adat, pegiat budaya, dan aktivis lingkungan dari berbagai daerah bersatu dan menghayati tema besar “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa”. Prosesi adat ini menjadi titik temu untuk merenungi kembali ikatan manusia dan alam.

Di tengah suasana penuh makna itu, Andy Utama selaku Pembina Paseban Foundation, menyuarakan pesan penting yang mengajak semua hadir untuk sadar bahwa hari ini adalah fondasi kehidupan esok: “Dengan Adanya Hari Ini, Maka Baru Ada Hari Esok”.

Etika Merawat Alam dan Tanggung Jawab Moral Generasi Kini

Nilai-nilai yang dihidupkan dalam tradisi Sunda tersebut sejalan dengan sejarah panjang pemikiran lingkungan hidup Indonesia, terutama gagasan pembangunan berkelanjutan ala Emil Salim sejak 1970-an. Emil menekankan pentingnya menyandingkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian alam serta keharmonisan sosial tanpa mengorbankan generasi yang akan datang.

Di dunia keilmuan, kita juga mengenal konsep keadilan antargenerasi yang digagas Richard P. Hiskes, yang menegaskan bahwa generasi saat ini wajib memastikan hak hidup generasi mendatang pada lingkungan yang bersih dan sehat. Melalui pandangan itulah, Andy mengingatkan agar manusia tidak berlaku jumawa sebagai pemilik bumi, namun kembali berperan sebagai pelindung keseimbangan alam.

Realiasi Konkrit di Megamendung: Langkah Nyata untuk Bumi

Tak sekadar berhenti pada pemikiran, Andy bersama Paseban Foundation menghadirkan aksi nyata lewat program-program di kawasan Lanskap Megamendung. Cinta pada lingkungan diterjemahkan dalam tindakan, bukan sekadar retorika.

Di lapangan, gerakan mereka meliputi;

Pertanian Organik Berkelanjutan: Pengembangan sistem tani yang bersahabat dengan tanah dan mengurangi emisi karbon.

– Pelestarian Satwa: Pengelolaan Lembah Aviary Paseban, penangkaran Rusa Timor, serta pelepasliaran Elang Jawa sebagai bagian dari upaya ex-situ.

– Reboisasi Skala Besar: Menanam lebih dari 21 ribu bibit aneka jenis tanaman hutan, sebagai langkah nyata mengembalikan kemegahan Megamendung seperti seabad lalu.

Semua aksi tersebut dirancang agar masyarakat bisa langsung berpartisipasi dalam merawat alam, bukan hanya menjadi penonton.

Warisan yang Bernilai untuk Generasi Mendatang

Kekuatan gerakan ini terletak pada kemampuan membawa teori besar dari Emil Salim dan Richard Hiskes ke dunia nyata—di mana setiap cangkul, pohon, dan satwa terlindungi menjadi wujud pengabdian. Dalam penutupannya, Andy mengingatkan kita, bahwa yang berarti dalam hidup bukanlah apa yang kita kumpulkan, melainkan apa yang kita tinggalkan dan persembahkan kepada dunia.

Inilah substansi dari Ngertakeun Bumi Lamba: menjaga bumi hari ini adalah satu-satunya jaminan ada kehidupan untuk generasi esok. Pesan tersebut seharusnya menjadi pegangan kita dalam merangkai masa depan.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII