RRQ Hoshi Berakhir Mengecewakan di MPL Indonesia Season 17
Jakarta, VIVA – Musim MPL Indonesia Season 17 telah berakhir dengan perjalanan yang sangat mengecewakan bagi RRQ Hoshi. Tim yang dikenal sebagai “Raja dari Segala Raja” harus menutup musim dengan hasil yang jauh dari ekspektasi para penggemar. Banyak pihak bahkan menyebut Season 17 sebagai salah satu musim terburuk dalam sejarah RRQ Hoshi di MPL Indonesia.
Performa Kurang Memuaskan di Regular Season
Pada pekan terakhir regular season, RRQ Hoshi kembali gagal menunjukkan perlawanan berarti saat menghadapi lawan-lawannya. Rentetan kekalahan sepanjang musim membuat mereka finis di papan bawah klasemen dan dipastikan gagal lolos ke playoff untuk musim kedua secara beruntun. Situasi ini menjadi pukulan besar bagi organisasi sebesar RRQ yang selama bertahun-tahun identik dengan perebutan gelar juara.
Identitas Permainan yang Krisis
Permasalahan RRQ sepanjang musim terlihat dari kurangnya konsistensi dalam permainan, terutama saat memasuki fase mid game dan teamfight penting. Meskipun mampu tampil cukup baik di early game, mereka sering gagal mempertahankan momentum hingga kehilangan kendali pertandingan. Krisis identitas permainan dianggap sebagai masalah utama tim selama musim ini.
Meskipun masih dihuni pemain berbakat seperti Super Kenn, Rinz, dan Skylar, chemistry dan pengambilan keputusan di dalam pertandingan dinilai tidak berjalan maksimal sepanjang musim. Hal ini menyebabkan RRQ beberapa kali kalah telak bahkan saat berhadapan dengan tim yang seharusnya bisa mereka lawan.
Penurunan Performa yang Drastis
Status RRQ sebagai salah satu organisasi tersukses di MPL Indonesia memberikan tekanan tersendiri bagi tim. Dalam beberapa musim sebelumnya, RRQ selalu menjadi kandidat juara dan langganan playoff. Kegagalan beruntun di Season 16 dan 17 dianggap sebagai penurunan performa yang sangat drastis oleh penggemar dan komunitas esports.
RRQ hanya mampu meraih sedikit kemenangan sepanjang regular season MPL ID S17 dan lebih sering menelan kekalahan. Bahkan, mereka sering kesulitan menjaga objektif seperti Turtle dan Lord yang merupakan kekuatan utama tim-tim papan atas MPL.

