Album ’30’ Merupakan Catatan Emosional Peni dalam Setahun Terakhir
Unit rock alternatif/power pop asal Malang, Peni, telah merilis album penuh bertajuk ’30’, yang merupakan rangkuman perjalanan kreatif mereka dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Album dengan sepuluh lagu ini dipublikasikan melalui Haum Entertainment, dan mengundang pendengar untuk merasakan berbagai emosi yang telah dieksplorasi sejak muncul di kancah musik independen pada awal 2025.
Perjalanan Kreatif Peni
Peni terbentuk oleh Ken Baruna (vokal, gitar), Gilang Domisilafa (gitar), Ardian Bagus atau Susu (bass), dan Aldian Ibanez atau Dibot (drum), dan mengusung perpaduan power pop dan rock alternatif. Awalnya, inspirasi mereka banyak berasal dari band-band Amerika era 1990-an, namun seiring berjalannya waktu, pengaruh musik Indonesia dari akhir 1990-an hingga awal 2000-an mulai terasa.
“Di awal perjalanan kami, kami mendengarkan banyak power pop dari Amerika. Namun, selama proses berjalan, kami merasa lebih terhubung dengan gaya musik dari Ariel NOAH, Eross Candra, hingga Pongki Barata,” ujar Gilang.
Penyajian Tema dan Emosi dalam Album ’30’
Dalam waktu yang relatif singkat, Peni telah menunjukkan produktivitas yang tinggi dengan merilis sejumlah single seperti “Allegori”, “Gejolak Asmara Masa Muda”, dan “Kota”. Tema-tema yang diangkat dalam lagu-lagu ini berkisah tentang puisi yang dijadikan lagu, kisah cinta yang obsesif, serta perasaan terasing di tengah kehidupan perkotaan.
Bagi Ken, album ’30’ merupakan ruang yang sangat personal, sebagai catatan harian yang memuat berbagai emosi yang dirasakan menjelang usia tiga puluh. Ia menyatakan bahwa album ini mencerminkan kemarahan, kesedihan, kesepian, dan pengalaman pribadi yang dialaminya.
Keterlibatan Kempel dalam Album ’30’
Keterlibatan Randy Levin Virgiawan, yang dikenal sebagai Kempel, memberikan warna tersendiri dalam album ini. Puisi yang ditulis oleh Kempel menjadi dasar bagi lagu “Allegori” dan membuka jalan eksplorasi lirik yang lebih puitis dan terasa getir. Hal ini menunjukkan adanya dimensi personal dalam penyusunan lagu-lagu album ’30’.
Seluruh materi dalam album ini diproduseri oleh Ken Baruna, direkam di Rama Studio, dan melalui proses mixing serta mastering oleh Rama Satria M. Pilihan ini diambil untuk tetap mempertahankan identitas Peni sebagai band pop meskipun dengan karakter suara yang kasar.
Album ’30’ hadir sebagai arsip emosional yang merekam bagaimana individu menghadapi dunia yang bising, relasi yang rapuh, serta perubahan waktu tanpa kompromi. Peni tidak mencoba memberikan solusi atau narasi optimistis, melainkan membuka ruang bagi pendengar yang mungkin mengalami hal serupa.
Setelah perilisan album ini, Peni tidak memiliki target jangka pendek yang spesifik. Mereka kembali ke rutinitas masing-masing sambil mempersiapkan materi untuk album berikutnya.

