Paskah adalah momen penting bagi umat Kristiani untuk merayakan kebangkitan Yesus Kristus dengan penuh makna. Persiapan spiritual dan aktif dalam rangkaian ibadah Tri Hari Suci harus dilakukan untuk menghayati makna sebenarnya dari perayaan Paskah. Mulai dari masa Prapaskah hingga merayakan Paskah sendiri, setiap langkah refleksi, puasa, doa, dan pertobatan memiliki arti besar dalam mempersiapkan hati dan jiwa untuk menyambut kebangkitan Kristus.
Di Indonesia, tradisi Paskah juga memiliki keunikan tersendiri yang menggabungkan iman Kristen dengan kearifan lokal. Beberapa tradisi seperti Semana Santa di Larantuka, Ziarah Makam Buha-Buha Ijuk di Sumatera Utara, Jalan Salib di Wonogiri, dan Tradisi Kure di Noemuti, NTT, memberikan keberagaman budaya dan kekayaan iman bagi umat Kristiani di Tanah Air. Tradisi-tradisi ini tidak hanya memperkuat iman, tetapi juga mempererat persatuan antarumat beragama.
Menurut Kemenag RI Provinsi Sulawesi Tengah, Paskah bukan sekadar perayaan liturgi, tetapi juga proses refleksi dan pertobatan yang dimulai sejak masa Prapaskah. Asal kata “Paskah” sendiri berasal dari bahasa Ibrani “pesach” yang artinya “melewati” atau “melewatkan” (passover), yang mengingatkan pada pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Paskah 2026 pada 5 April bagi Gereja Barat merupakan momen untuk merasakan pengampunan, kasih, dan semangat hidup baru serta memperkokoh persaudaraan dan solidaritas di tengah umat manusia.
Melalui perayaan Paskah, umat Kristiani diajak untuk menebarkan kasih, damai, dan harapan baru kepada sesama. Perayaan ini tidak hanya memiliki makna personal, melainkan juga komunal yang memperkuat hubungan antarumat beragama serta menjalin persaudaraan yang erat dalam semangat kasih Kristus.

