Saya memiliki pengalaman kenal dengan dua tipe orang yang ingin berinvestasi dalam Bitcoin, masing-masing dengan pendekatan yang ekstrem. Yang pertama terlalu agresif hingga merusak keuangan, sementara yang kedua terlalu hati-hati hingga tidak pernah memulai investasi. Kedua pendekatan ini sama-sama tidak ideal dari sudut pandang investasi. Dalam artikel ini, saya akan mencoba mencari titik tengah yang lebih seimbang.
Banyak informasi di internet memberikan rekomendasi angka persentase untuk diinvestasikan, tetapi seringkali konteksnya hilang sehingga pemahaman pemula menjadi terganggu. Sebagai contoh, framework keuangan seperti aturan 50/30/20 mengalokasikan 20% penghasilan untuk investasi, termasuk Bitcoin. Namun, penting untuk diingat bahwa Bitcoin bukanlah aset konvensional seperti deposito atau reksa dana pasar uang.
Sebelum memasukkan dana ke Bitcoin, ada urutan langkah yang harus diikuti. Hal pertama yang harus dipenuhi adalah dana darurat yang setara dengan 3-6 bulan pengeluaran bulanan, diikuti dengan melunasi utang berbunga tinggi dan memiliki tabungan jangka pendek. Baru setelah fondasi-fondasi tersebut terpenuhi, barulah uang yang tersisa yang benar-benar bisa diinvestasikan ke Bitcoin.
Setelah memenuhi fondasi keuangan, alokasi untuk Bitcoin sebaiknya tetap konsisten tanpa dipengaruhi oleh fluktuasi harga. Menaikkan alokasi hanya boleh dilakukan setelah dana darurat penuh, tidak ada utang berbunga tinggi, konsistensi DCA minimal 6 bulan, kenaikan alokasi tidak mengubah kualitas hidup secara signifikan, dan naikkan alokasi karena kenaikan penghasilan bukan karena FOMO.
Ada beberapa kesalahan yang harus dihindari dalam mengelola alokasi Bitcoin, misalnya mengubah persentase setiap bulan tergantung harga, menaikkan alokasi saat bull run karena FOMO, menghentikan DCA saat bear market, meminjam uang untuk beli Bitcoin, dan menginvestasikan uang yang dibutuhkan dalam 12 bulan ke depan. Konsistensi dan stabilitas merupakan kunci dalam mengelola alokasi Bitcoin dengan baik.

