Ladytron Rilis Paradises: Album Pertama Era Tiga Personel

Ladytron Siapkan Paradises, Album Baru yang Menandai Babak Tiga Personel

Ladytron kembali bergerak dengan langkah yang terasa lebih ringan, tetapi tetap punya identitas yang tajam. Band electro-pop asal Liverpool itu mengumumkan album studio terbaru mereka, Paradises, yang dijadwalkan rilis pada 20 Maret 2026 lewat label Nettwerk. Bersamaan dengan pengumuman itu, mereka juga melepas lagu baru “Caught in the Blink of an Eye” lengkap dengan video musik garapan Daniel Hunt, salah satu personel Ladytron.

Rilisan ini menjadi penanda penting bagi Ladytron yang kini beroperasi sebagai trio. Formasi terbaru mereka diisi Helen Marnie, Daniel Hunt, dan Mira Aroyo setelah Reuben Wu, salah satu pendiri band, resmi pergi pada 2023. Di saat banyak grup memilih bermain aman setelah kehilangan anggota, Ladytron justru tampak ingin menunjukkan bahwa perubahan susunan bukan akhir dari arah kreatif mereka.

Babak Baru Setelah Time’s Arrow

Paradises hadir setelah Time’s Arrow, album yang dirilis pada 2023 dan menjadi penanda kembalinya Ladytron setelah jeda panjang. Jika album sebelumnya membawa mereka kembali ke peta musik elektronik dengan karakter yang familiar, Paradises terlihat ingin melangkah lebih jauh tanpa meninggalkan ciri yang sudah melekat sejak akhir 1990-an.

Album baru ini diproduseri oleh Daniel Hunt, sementara Jim Abbiss terlibat sebagai mixing engineer. Nama Abbiss sendiri bukan sosok asing di ranah rekaman pop dan elektronik, dan kehadirannya memberi bobot tambahan pada proyek yang tampaknya ingin memadukan presisi teknis dengan intuisi khas Ladytron.

Nuansa Disco yang Tetap Berisik Khas Ladytron

Daniel Hunt menyebut dorongan utama di balik album ini sederhana: kesenangan. Ia juga mengatakan band ingin membuat semacam “rekaman disco” dengan bahasa musikal mereka sendiri. Pernyataan itu memberi petunjuk bahwa Paradises tidak akan sekadar mengulang formula lama, melainkan mencoba meramu energi lantai dansa dengan atmosfer dingin dan melankolis yang selama ini identik dengan Ladytron.

Jim Abbiss mengaku terkesan dengan ragam lagu dan aransemen di album ini. Menurutnya, materi Paradises mengingatkan pada Witching Hour, salah satu album klasik Ladytron, meski tetap membawa warna berbeda. Helen Marnie pun menggambarkan proses kerja dengan Abbiss sebagai pengalaman yang terasa natural dan memicu banyak energi kreatif di studio.

Ditulis dari Rasa Awal yang Paling Murni

Mira Aroyo memberi sudut pandang yang menarik soal isi album. Ia mengatakan ingin menulis dari posisi kegembiraan awal, seperti saat Ladytron pertama kali mulai bermusik. Pernyataan ini membuat Paradises terdengar bukan hanya sebagai album baru, tetapi juga sebagai upaya mengingat kembali alasan awal band ini terbentuk: dorongan untuk bereksperimen, bermain, dan menemukan suara sendiri.

Materi dalam album tersebut disusun selama sekitar lima bulan di beberapa lokasi, termasuk Liverpool, Montrose, dan London. Selain lagu-lagu yang sudah lebih dulu dirilis, Paradises juga memuat materi baru yang disiapkan selama periode kerja tersebut. Dengan formasi yang lebih ramping dan arah musik yang masih terus dibentuk, Ladytron tampaknya sedang membuka fase baru yang tidak sibuk membuktikan diri, melainkan menegaskan bahwa mereka هنوز punya tenaga untuk terus bergerak.

Source link