Exploring Buddie’s Strongest Bond in the New Era

Exploring Buddie’s Strongest Bond in the New Era

Buddie kembali mengingatkan bahwa pop grunge tak harus berisik demi terdengar penting. Band asal Vancouver ini baru saja merilis album penuh ketiga mereka, Glass, sebuah karya yang melanjutkan jejak Agitator pada 2023 dan debut Diving pada 2020. Di bawah kendali Dan Forrest, Buddie tetap setia pada racikan yang membuat nama mereka menonjol: gitar fuzz yang kasar, tetapi dibungkus melodi pop yang mudah menempel sejak dengar pertama.

Album baru yang menyorot kegelisahan modern

Sejak awal, Buddie dikenal sebagai band yang piawai mengubah rasa gelisah jadi lagu yang tetap terasa hangat. Di Glass, mereka kembali menyentuh tema-tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: privilese, budaya konsumsi, individualisme, hingga arti komunitas. Namun, alih-alih terdengar menghakimi, pendekatan mereka justru terasa personal dan jujur. Buddie seperti sedang mengajak pendengar mengintip cara hidup modern membentuk jarak antarmanusia, terutama di tengah sistem kapitalisme yang kian menekan.

“In the Glass Shell” dan kritik yang dibawa dengan melodi ringan

Bersamaan dengan perilisan album, Buddie juga melepas video musik terbaru untuk lagu unggulan mereka, “In the Glass Shell”. Lagu ini menyoroti bagaimana teknologi dan budaya konsumsi bisa membuat hidup menyempit, seolah manusia makin jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Meski membawa kritik yang cukup tajam, Buddie tidak memilih jalur muram. Mereka justru menyampaikannya lewat power pop yang renyah, dengan nuansa yang mengingatkan pada daya tarik ringan band seperti Weezer atau Fountains of Wayne.

Visual yang memperkuat rasa terjebak

Dalam video musiknya, tema tersebut dibuat lebih konkret. Forrest terlihat sibuk merakit diorama berbentuk mangkuk kaca, lalu larut dalam obsesi yang menyeretnya ke dunia animasi sureal. Visual itu bekerja sebagai metafora yang pas: manusia kerap merasa sedang mencari pelarian, padahal justru masuk ke ruang yang makin membatasi. Vokal Forrest mengalir di atas distorsi hangat, bergerak dari bagian-bagian yang tenang menuju chorus yang meledak tanpa kehilangan karakter melodisnya.

Berangkat dari kebiasaan yang terasa akrab

Menurut Forrest, “In the Glass Shell” lahir dari kebiasaan yang sangat sehari-hari. Mulai dari belanja satu klik di marketplace, memesan makanan lewat aplikasi, sampai tenggelam dalam doomscrolling, semuanya digambarkan sebagai dorongan yang sulit ditolak. Kebiasaan-kebiasaan itu memberi kepuasan instan, tetapi sekaligus bisa menjauhkan orang dari hubungan nyata. Buddie menyoroti bagaimana pola semacam ini ikut menguatkan dominasi perusahaan besar seperti Amazon, Uber, Disney, dan Spotify dalam kehidupan modern.

Lewat Glass dan “In the Glass Shell”, Buddie tidak sekadar merilis materi baru. Mereka mempertegas posisi sebagai band yang mampu membuat kritik sosial terdengar akrab, dekat, dan tetap enak didengar—sebuah kombinasi yang justru menjadi kekuatan paling konsisten mereka di era baru ini.