Senin Bukan Sekadar Berat di Kepala, Tapi Juga Bisa Mengganggu Tubuh
Istilah Monday blues atau sindrom hari Senin sudah lama dipakai untuk menggambarkan rasa lesu, cemas, dan enggan memulai pekan kerja. Namun, sejumlah temuan medis menunjukkan bahwa dampaknya tidak berhenti pada suasana hati. Hari Senin berkali-kali muncul sebagai hari yang berkaitan dengan lonjakan stres, kecemasan, hingga risiko kesehatan yang lebih serius dibandingkan hari-hari lain.
Hari Senin dan jejak stres yang tercatat di data medis
Dalam berbagai catatan kesehatan, Senin kerap menonjol sebagai hari dengan tingkat kecemasan dan stres yang lebih tinggi. Bahkan, angka bunuh diri juga dilaporkan cenderung meningkat pada hari ini. Temuan lain menyebutkan adanya kenaikan risiko kematian mendadak akibat serangan jantung pada hari Senin, dan pola tersebut terlihat pada berbagai kelompok usia serta jenis kelamin.
Artinya, tekanan yang sering diasosiasikan dengan awal pekan bukan hanya perasaan subjektif. Ada pola yang terus berulang dalam data kesehatan, seolah tubuh ikut merespons beban psikologis yang datang bersama Senin.
Temuan Tarani Chandola tentang efek jangka panjang
Peneliti Tarani Chandola menemukan bahwa orang yang merasa cemas pada hari Senin menunjukkan aktivitas sistem respons stres tubuh yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang cukup lama. Temuan ini menarik karena efeknya tidak hilang begitu saja setelah hari Senin berlalu.
Yang lebih mencolok, pengaruh tersebut juga masih terlihat pada lansia yang sudah pensiun. Ini mengindikasikan bahwa “efek hari Senin” tidak semata-mata dipicu rutinitas kerja. Ada kemungkinan, pengalaman bertahun-tahun terhadap tekanan awal pekan meninggalkan jejak yang bertahan lama pada tubuh.
Diduga berkaitan dengan hormon stres kortisol
Para peneliti juga mencoba menelusuri akar biologis dari fenomena ini, terutama kaitannya dengan hormon stres kortisol. Hormon ini berperan dalam respons tubuh saat menghadapi tekanan, dan kadarnya dapat memengaruhi kondisi mental maupun fisik seseorang.
Meski pola kortisol diketahui cenderung lebih tinggi selama hari kerja dibandingkan akhir pekan, penelitian yang secara khusus menguji dampak biologis hari Senin masih terbatas. Karena itu, Senin kini dipandang bukan hanya sebagai hari yang “berat” secara emosional, tetapi juga sebagai momen yang berpotensi memicu respons tubuh yang nyata dan terukur.
Source link

