In The Moment: Seni Hidup di Antara Ingatan dan Kehadiran

In The Moment: Duara Merangkai Ingatan, Waktu, dan Kehadiran dalam EP Terbaru

Duo musik asal Jakarta, Duara, kembali menegaskan identitas mereka yang sejak awal sulit dipasangi label tunggal. Sejak terbentuk pada 2017, mereka konsisten menolak dikurung dalam satu genre dan memilih meramu musik sebagai ruang bebas untuk ingatan, emosi, dan pengalaman yang terus bergerak. Pendekatan itu mereka sebut sebagai pop agnostic, sebuah cara pandang yang sengaja menjauh dari batas-batas baku musik populer.

Pada 29 Agustus 2025, Duara merilis EP terbaru bertajuk In The Moment lewat label MABES Music. Rilisan ini menjadi penanda penting dalam perjalanan kreatif mereka selama delapan tahun, sekaligus memperlihatkan bentuk paling utuh dari cara Duara membaca waktu: bukan sebagai garis lurus, melainkan sebagai sesuatu yang bisa diingat, dihadapi, lalu diolah menjadi suara.

Rekaman di Tengah Ketidakpastian

EP In The Moment direkam di tengah situasi yang serba tak menentu pada 2020 dan 2021. Dari periode itu, Duara menangkap tema besar tentang bagaimana manusia berhadapan dengan waktu—termasuk rasa ragu, kehilangan, dan upaya untuk tetap hadir di tengah segala perubahan. Alih-alih menghadirkan musik yang sekadar enak didengar, mereka membangun suasana yang terasa personal dan reflektif.

Single utama berjudul Memento Mori menjadi contoh paling jelas dari pendekatan tersebut. Lagu ini membawa kesan seperti melangkah ke ruang kosong yang masih menyisakan jejak masa lalu. Ada nuansa hening, ada bekas yang tertinggal, dan ada rasa bahwa setiap bunyi sedang mencoba mengingat sesuatu yang nyaris hilang.

Perubahan Energi dan Warna Musik yang Lebih Luas

Meski dibangun dengan atmosfer yang intim, EP ini tidak berjalan dalam satu warna saja. Trek pembuka Between The Lines langsung memperlihatkan perubahan energi yang lebih tegas, dengan gitar bernuansa rock yang mengalir deras. Dari awal, Duara memberi sinyal bahwa In The Moment bukan sekadar kumpulan lagu pelan dan kontemplatif, melainkan rangkaian yang bergerak dinamis.

Di sisi lain, lagu-lagu seperti In The Moment dan Futatabi menjaga benang merah EP ini tetap sinematik dan dalam. Keduanya menghadirkan kesan seperti membuka kembali halaman lama dari sebuah buku harian: akrab, sedikit getir, tetapi juga penuh lapisan perasaan yang tidak langsung habis dalam satu dengar.

Pop Agnostic sebagai Sikap, Bukan Sekadar Gaya

Melalui In The Moment, Duara memperlihatkan bahwa keberanian bereksperimen tidak harus berujung pada musik yang sulit didekati. Justru sebaliknya, mereka merangkai berbagai pengaruh menjadi karya yang tetap menyentuh dan mudah dirasakan. Di tangan Duara, percampuran genre bukan sekadar permainan bentuk, tetapi cara untuk memberi ruang bagi emosi manusia yang sering kali tidak bisa dijelaskan dengan satu nada saja.

Duara merangkum visi mereka dengan sederhana: musik yang mereka buat adalah gabungan ingatan masa lalu dan jawaban untuk masa kini. Dari pernyataan itu, In The Moment terdengar bukan hanya sebagai EP baru, melainkan sebagai catatan tentang bagaimana sebuah duo memilih berdiri di antara kenangan dan kehadiran, lalu mengubahnya menjadi pengalaman dengar yang rapat, jujur, dan meninggalkan bekas.