GAZZELL, band pop punk asal Tangerang, akhirnya menutup penantian dua tahun perjalanan mereka di skena gigs bawah tanah dengan merilis debut EP bertajuk This Wasn’t in the Tutorial. Lewat enam lagu yang padat emosi, cepat, dan mudah melekat di kepala, rilisan ini terasa seperti catatan jujur tentang fase hidup yang sering datang tanpa peringatan: masa transisi menuju dewasa.
Potret Kacau di Usia Dua Puluhan
EP ini tidak sekadar mengandalkan dentuman gitar dan ritme ngebut khas pop punk. Di balik energinya, GAZZELL menyelipkan keresahan yang akrab bagi banyak orang di usia dua puluhan—saat idealisme lama mulai berbenturan dengan kenyataan baru yang tidak selalu ramah. Nabil, gitaris sekaligus vokalis band, menyebut karya ini lahir dari kegelisahan akan rasa belum siap menghadapi tantangan hidup yang tiba-tiba datang. Situasi itu, menurutnya, juga dirasakan banyak orang yang berada di fase serupa.
Rasa gelisah itu diterjemahkan GAZZELL lewat pendekatan musik yang jelas akar pengaruhnya. Mereka membawa semangat punk tiga kord yang kasar dan cepat ala Ramones, lalu menyeimbangkannya dengan harmoni vokal serta melodi ringan yang mengingatkan pada The Beach Boys. Hasilnya adalah lagu-lagu yang terdengar keras, tetapi tetap punya sisi hangat dan mudah didekati.
Dari Lagu yang Sudah Diperkenalkan ke Rilisan Utuh
Sebelum EP ini resmi dirilis, GAZZELL lebih dulu memperkenalkan beberapa nomor kepada publik. Dua lagu yang sudah lebih dulu dikenal adalah I Wanna Go Home With You dan Saturation, yang kini ikut mengisi susunan penuh EP tersebut. Kehadiran keduanya memberi semacam jembatan bagi pendengar untuk memahami arah musikal band ini sebelum mendengar keseluruhan materi.
Untuk produksi, GAZZELL menggandeng Naqa Arkana dari Void Dream. Sentuhan produser ini memberi warna baru pada proses pengerjaan EP, tanpa menghilangkan karakter dasar band yang selama ini tumbuh di panggung-panggung kecil. Pendekatan tersebut membuat This Wasn’t in the Tutorial terasa lebih matang, tetapi tetap menjaga energi mentah yang menjadi identitas mereka.
Enam Lagu, Satu Benang Merah
EP dibuka dengan trek Intro yang atmosferik, lalu bergerak ke Unraveling Within, Solitude Is Bliss, Destruction, Saturation, hingga I Wanna Go Home With You. Urutan ini membangun narasi yang konsisten tentang kebingungan, jarak dengan diri sendiri, dan upaya menerima situasi yang tak selalu bisa dikendalikan.
GAZZELL tidak menawarkan jawaban instan. Justru di situlah kekuatan EP ini: ia memberi ruang bagi pendengar untuk mengakui bahwa ketidakpastian bukan sesuatu yang harus selalu ditaklukkan, melainkan bagian yang sah dari perjalanan hidup. Dalam format pop punk yang lugas, GAZZELL berhasil menjadikan kegelisahan generasi muda sebagai sesuatu yang bisa dinyanyikan bersama, bukan sekadar dipendam sendiri.
Source link

