Pelanggaran Lalu Lintas di Kendal: Dominasi Remaja

KENDAL — Operasi Patuh Candi 2025 di Kabupaten Kendal kembali membuka fakta yang cukup mengkhawatirkan: pelanggaran lalu lintas paling banyak justru datang dari kalangan remaja. Selama 14 hari pelaksanaan, Satuan Lalu Lintas Polres Kendal mencatat 1.453 pelanggaran, dengan dominasi pengendara muda yang masih abai terhadap aturan dasar keselamatan di jalan.

Remaja Jadi Sorotan Utama dalam Operasi

Jenis pelanggaran yang paling sering ditemukan pun bukan perkara sepele. Mulai dari tidak memakai helm, tidak memasang spion, melawan arus, hingga berboncengan lebih dari dua orang. Pola ini menunjukkan bahwa persoalan disiplin berlalu lintas di Kendal masih banyak terjadi pada kelompok usia pelajar dan remaja, yang kerap mengabaikan risiko saat berkendara.

Kasat Lantas Polres Kendal, AKP Panji Yugo Putranto, menegaskan bahwa kepatuhan terhadap aturan lalu lintas bukan sekadar urusan menghindari tilang. Menurut dia, aturan dibuat untuk melindungi pengendara sekaligus pengguna jalan lain agar keselamatan bersama tetap terjaga.

Angka Kecelakaan Turun, Kesadaran Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Di sisi lain, pelaksanaan operasi ini juga mencatat kabar yang lebih baik: angka kecelakaan selama kegiatan berlangsung menurun. Namun, penurunan tersebut belum cukup menjadi alasan untuk lengah. Kesadaran masyarakat, terutama para pelajar dan remaja, masih perlu terus dibangun agar tertib berlalu lintas tidak hanya muncul saat ada operasi kepolisian.

Satlantas Polres Kendal menekankan bahwa fokus Operasi Patuh Candi adalah pelanggaran yang terlihat langsung di jalan atau pelanggaran kasat mata. Adapun urusan administratif seperti pajak kendaraan bukan menjadi ranah operasi ini, melainkan ditangani oleh Samsat dan Bapenda.

Patuh di Jalan, Bukan Hanya Saat Ada Razia

Melalui operasi ini, kepolisian berharap masyarakat tidak memandang aturan lalu lintas sebagai beban sesaat. Kepatuhan di jalan harus menjadi kebiasaan harian, karena keselamatan tidak bisa dinegosiasikan. Kendal kini dihadapkan pada tantangan yang cukup jelas: menekan angka pelanggaran remaja sebelum kebiasaan abai itu berubah menjadi risiko yang lebih besar di jalan raya.