Di tengah banyaknya band yang memilih aman, The Raws justru kembali menajamkan sikap. Unit punk asal Jakarta Timur itu merilis single terbaru berjudul M.P.F.A (Make Palestine Free Again) sebagai pernyataan terbuka atas tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Palestina. Lagu ini hadir secara digital melalui Bandcamp dan menjadi lanjutan dari langkah mereka setelah merilis Dansa Porak Poranda pada awal 2025, yang menandai perubahan formasi sekaligus arah baru band.
Suara keras dari ruang bawah tanah
Lewat M.P.F.A, The Raws tidak sekadar membungkus kemarahan dalam format lagu. Mereka menjadikan musik sebagai medium untuk menolak diam, terutama ketika kekerasan di Gaza kerap luput dari perhatian. Lirik-lirik yang mereka hadirkan memotret kekejaman yang terjadi dan menyodorkan sikap tegas bahwa punk masih punya fungsi sebagai suara yang menggugat ketidakadilan.
Di tengah hentakan khas punk, lagu ini bergerak seperti seruan kolektif: marah, berduka, namun tetap menyimpan harapan. The Raws menempatkan Palestina bukan sebagai isu tempelan, melainkan sebagai pusat pesan yang ingin mereka tegaskan kepada pendengar. Dalam perspektif mereka, perlawanan bukan slogan kosong, melainkan sikap yang harus terus dihidupkan.
Jejak panjang konsistensi The Raws
The Raws bukan nama baru dalam skena ini. Band yang terbentuk pada 1998 tersebut sudah melewati berbagai fase, mulai dari rilisan fisik di awal 2000-an hingga kebangkitan lewat Transisi pada 2021. Kini, melalui M.P.F.A, mereka kembali menunjukkan bahwa konsistensi politik dan musikal bisa berjalan beriringan tanpa kehilangan tenaga.
Punk sebagai sikap, bukan sekadar genre
Bagi The Raws, punk tidak berhenti pada distorsi gitar atau tempo cepat. Ia adalah ruang untuk mengambil posisi, mengganggu kenyamanan, dan bersuara ketika ketidakadilan berlangsung. Karena itu, meski lagu ini mungkin tidak dirancang untuk mengejar putaran radio arus utama, resonansinya justru berpotensi lebih kuat di ruang-ruang bawah tanah, gigs kecil, dan komunitas yang masih memandang musik sebagai alat perlawanan.
Dengan M.P.F.A, The Raws menegaskan kembali identitas mereka: keras, politis, dan tak mau tunduk pada arus yang membungkam.

