Indonesia, negara yang kita cintai. Buku Pendidikan Kewarganegaraan mengatakan bahwa semua warga negara sama di mata hukum. Namun, mengapa orang kaya terlihat seperti manusia super yang bisa melompat dari satu aturan ke aturan lainnya dengan mudah? Selain itu, kita juga diberitahu untuk mencintai produk lokal, namun iklan di televisi dipenuhi dengan produk luar negeri. Apakah cinta ini hanya sebatas pada dompet?
Kita, generasi penerus bangsa, harus bekerja keras, bahkan ketika magang yang tidak dibayar selama tiga bulan dan harus tetap tersenyum. Apakah ini latihan untuk menjadi pemimpin atau hanya sebagai budak? Pendidikan dianggap sebagai kunci masa depan, tapi sayangnya anak-anak dari kalangan tertentu sulit untuk mendapatkannya.
Indonesia, kita diminta untuk taat pada aturan, namun mengapa orang-orang di gedung besar sepertinya tidak terikat oleh aturan? Negara kita memiliki kekayaan alam yang indah, tetapi sayangnya hutan terus ditebang dan saat banjir, masyarakat ditegur untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Setiap hari kita dihadapkan dengan berita korupsi, hukumannya tampaknya tidak sebanding dengan kerugian yang ditimbulkan.
Indonesia yang katanya demokratis, kita diizinkan untuk berbicara asalkan tidak terlalu keras, dan boleh melakukan protes namun tidak di tempat umum. Janji-janji selalu diucapkan saat kampanye, namun setelah pemilu, alasan lah yang banyak dijumpai. Harga-harga terus naik namun rakyat dilarang untuk banyak bertanya. Indonesia, tanah air tercinta, mari kita bersama-sama mencari solusi demi kebaikan bersama.

