Gunung Rinjani bukan sekadar tujuan wisata alam. Bagi banyak pendaki, gunung tertinggi kedua di Indonesia ini adalah ujian fisik, mental, dan kewaspadaan. Pesonanya memang memikat, tetapi di balik lanskap yang menawan, Rinjani menyimpan jalur-jalur yang dikenal berat dan rawan membuat pendaki lengah.
Rinjani, Indah tapi Tidak Ramah
Rute pendakian ke Gunung Rinjani umumnya ditempuh melalui dua jalur utama, yakni Sembalun dan Senaru. Keduanya sama-sama menuntut tenaga ekstra karena medan yang panjang, menanjak, dan berubah-ubah. Di sejumlah titik, pendaki harus benar-benar menjaga langkah agar tidak terpeleset, terutama saat kondisi gelap atau ketika angin bertiup kencang.
Salah satu titik yang kerap disebut paling menyulitkan adalah Cemara Tunggal, atau Cemara Nunggal. Jalur ini sempit, dengan jurang di kanan dan kiri, sementara permukaannya terdiri dari batu-batu berpasir yang mudah membuat pijakan bergeser. Tidak sedikit pendaki yang mengaku kesulitan mempertahankan keseimbangan saat melintas di area ini.
Menuju Puncak dengan Langkah Berat
Perjalanan menuju puncak Rinjani juga dikenal melelahkan karena didominasi medan pasir curam. Setiap langkah sering terasa mundur, bukan maju, karena kaki mudah tergelincir. Beberapa pendaki bahkan menyebut tantangan menuju puncak Rinjani lebih berat dibanding pendakian di Annapurna, Nepal.
Setibanya di puncak, tantangan belum selesai. Area puncak Gunung Rinjani tergolong sempit, sehingga para pendaki harus bergantian menikmati panorama dari atas. Kondisi ini membuat arus pendaki perlu diatur dengan hati-hati agar tidak menambah risiko di lokasi yang terbatas.
Jalur Senaru dan Ancaman Musim Hujan
Selain Sembalun, jalur Senaru juga punya reputasi tersendiri. Di jalur ini terdapat tanjakan curam dengan kemiringan mencapai 45 derajat yang dikenal sebagai Letter E. Saat musim hujan, lintasan tersebut menjadi licin dan jauh lebih berbahaya, meski tetap dipilih banyak pendaki karena menjadi akses menuju Danau Segara Anak.
Perjalanan turun ke danau pun tidak bisa dianggap ringan. Batuan curam dan licin menjadi ancaman tersendiri, terutama ketika permukaan trek basah. Ditambah lagi, cuaca di Rinjani dikenal sulit diprediksi. Siang hari suhu bisa mencapai 30°C, lalu merosot tajam hingga sekitar 5°C pada malam hari, disertai angin kencang yang membuat kondisi makin berat.
Karena risiko itu, BTGR kerap menutup jalur pendakian saat musim hujan untuk mengantisipasi longsor dan bahaya lain yang mengintai. Di Rinjani, keindahan memang selalu datang beriringan dengan kewaspadaan.

