6 Raja Tambang Batu Bara di Indonesia dengan Kekayaan yang Tidak Serasi

Garibaldi Thohir, yang lebih dikenal sebagai Boy Thohir, adalah seorang pengusaha terkemuka di Indonesia dan kakak dari Menteri BUMN Erick Thohir. Bersama TP Rachmat dan Edwin Soeryadjaya, Boy mendirikan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), yang pada tahun 2008 mengadakan penawaran umum perdana (IPO) terbesar dalam sejarah Indonesia hingga saat itu. Adaro Energy memiliki lokasi penambangan yang tersebar di Pulau Sumatra dan Kalimantan, serta akuisisi tambang di Australia pada tahun 2018 yang memperluas operasi globalnya.

Beberapa perusahaan tambang di bawah Adaro Group termasuk PT Mustika Indah Permai (MIP), PT Bukit Enim Energi (BEE), Adaro Metcoal Companies (AMC), dan PT Bhakti Energi Persada (BEP). Pada akhir 2022, Forbes menempatkan Boy Thohir pada urutan ke-15 dalam daftar 50 Orang Terkaya Indonesia dengan kekayaan sebesar US$ 3,45 miliar atau sekitar Rp 54,01 triliun. Namun, pada tahun 2023, kekayaannya tercatat sebesar US$ 3,3 miliar atau sekitar Rp 51,29 triliun, menjadikannya orang terkaya ke-17 di Indonesia.

Edwin Soeryadjaya, lahir dengan nama Tjia Han Pun pada 17 Juli 1949, adalah putra dari William Soeryadjaya, pendiri Astra International, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Edwin lahir setelah keluarganya kembali dari Belanda pada masa perang Indonesia-Belanda yang perlahan mereda. Pada tahun 1997-1998, Edwin bersama Sandiaga Uno mendirikan perusahaan keuangan Saratoga Investama Sedaya, di mana ia menjadi pemimpin tertinggi setelah krisis moneter melanda Indonesia. Saratoga tumbuh menjadi salah satu perusahaan keuangan terkemuka di Indonesia, yang kemudian merambah ke sektor tambang batu bara.

Setelah tahun 2000, Edwin mulai terlibat dalam bisnis tambang batu bara, mirip dengan sepupunya, Theodore Permadi Rachmat, yang juga aktif di sektor ini melalui Pama Persada. Pada tahun 2022, Forbes mencatat kekayaan Edwin sebesar US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 28,05 triliun. Pada tahun 2023, kekayaannya tercatat sebesar US$ 1,24 miliar atau sekitar Rp 19,27 triliun, menjadikannya orang terkaya ke-39 di Indonesia.

Theodore Rachmat memiliki kekayaan senilai US$ 3,3 miliar, yang menempatkannya di posisi ke-16 dalam daftar orang terkaya di Indonesia, mencerminkan keberhasilan dan ketekunannya dalam dunia bisnis. Sebagai pendiri Grup Triputra, Theodore telah membangun konglomerat besar yang terdiri dari empat lini bisnis utama: agribisnis, manufaktur, pertambangan, dan logistik. Di sektor agribisnis, Grup Triputra memiliki perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam produksi kelapa sawit dan karet, sementara di sektor manufaktur, mereka terlibat dalam produksi komponen otomotif dan alat berat.

Selain keberhasilan di agribisnis dan manufaktur, Theodore Rachmat juga memiliki pengaruh besar di industri pertambangan melalui kepemilikan saham minoritas di PT Adaro Energy Indonesia, salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di dunia. Adaro Energy telah memberikan kontribusi signifikan terhadap kekayaan dan reputasi Theodore di industri energi global. Kepemilikan sahamnya di Adaro menunjukkan visinya yang tajam dalam mengidentifikasi peluang investasi yang menguntungkan di sektor energi. Grup Triputra, di bawah kepemimpinan Theodore, terus berkembang dan berinovasi dalam berbagai sektor, memperkuat posisinya sebagai salah satu konglomerat terkemuka di Indonesia.