Manado — Penjabat Gubernur Kalimantan Timur, Akmal Malik, menempatkan Ibu Kota Nusantara (IKN) bukan sekadar proyek perpindahan pusat pemerintahan, melainkan sebagai alat untuk mendorong keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Menurut dia, kehadiran IKN di Kalimantan Timur akan membuka arah kebijakan yang lebih berpihak pada wilayah-wilayah di luar pusat pertumbuhan lama.
IKN dan arah baru pembangunan
Akmal menyampaikan pandangan itu saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Evaluasi Otonomi Daerah di Manado, Minggu. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Kampus Fisipol Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Dalam forum itu, ia menegaskan bahwa penetapan IKN di Kaltim membawa makna strategis yang jauh lebih besar dari sekadar pemindahan ibu kota.
“Dengan adanya IKN, maka kebijakan yang diputuskan pusat akan berpihak kepada wilayah-wilayah tersebut,” kata Akmal Malik. Ia menilai, kehadiran IKN dapat menjadi penanda bahwa masa depan Indonesia tidak lagi hanya bertumpu pada satu kawasan, melainkan memberi ruang lebih besar bagi Indonesia Timur.
Harapan pada kampus dan daerah sekitar IKN
Akmal juga menyoroti pentingnya dukungan dari perguruan tinggi di sekitar IKN. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, kata dia, berharap kampus-kampus dapat ikut terlibat dalam proses pembangunan, baik melalui kajian, pendampingan, maupun penguatan sumber daya manusia.
Ia menegaskan, meski IKN belum sepenuhnya terwujud, dukungan tetap dibutuhkan sejak awal. Bahkan ketika nanti IKN telah beroperasi di luar wilayah Kalimantan Timur, pemerintah daerah tetap berkomitmen memberi sokongan agar pembangunan berjalan konsisten.
Kolaborasi lintas daerah dan peran mahasiswa
Dalam kesempatan itu, Akmal menekankan perlunya komunikasi antardaerah agar Sulawesi Utara dan perguruan tinggi di wilayah tersebut bisa ikut mengambil bagian dalam penguatan IKN. Ia juga mengajak Unsrat untuk berkolaborasi dalam pembinaan pendidikan sosial, politik, serta pengembangan sumber daya manusia.
Menurut Akmal, mahasiswa tidak cukup hanya memahami IKN dari ruang kelas. Mereka perlu melihat langsung kondisi di lapangan agar bisa memberi kontribusi yang lebih nyata. Karena itu, ia mendorong mahasiswa dan mahasiswi untuk turun ke lapangan dan membaca sendiri dinamika yang terjadi di sekitar pembangunan IKN.
Artikel ini ditulis oleh Arumanto dan diedit oleh Chandra Hamdani Noor.
Source link

