Solo (ANTARA) – Rekrutmen terbuka yang dijalankan PDIP menjelang Pilkada Surakarta dinilai bukan sekadar mencari nama baru, melainkan juga menjadi ajang pembuktian bagi kader sendiri. Pengamat politik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Mohammad Abdul Hakim, melihat langkah itu sebagai cara partai mengukur kekuatan internal sekaligus membaca respons publik terhadap figur yang disiapkan.
PDIP Menguji Kader di Tengah Peta Politik Solo
Menurut Abdul Hakim, rekrutmen terbuka memiliki dua fungsi utama. Pertama, menguji sejauh mana kader internal mampu bersaing dengan kandidat dari luar partai. Ia menilai sejumlah nama dari internal PDIP memang sudah muncul, tetapi sambutan masyarakat terhadap mereka belum terlihat begitu kuat.
“Di sini PDIP melihat dan ingin mengadu apakah kandidat internalnya itu memang paling diunggulkan atau sebetulnya masih ada alternatif lain,” katanya di Solo, Jawa Tengah, Rabu.
Menarik Minat Tokoh Luar Partai
Fungsi kedua, lanjutnya, adalah untuk melihat sejauh mana tokoh nonkader tertarik ikut dalam kontestasi. Menurut dia, kehadiran calon dari luar partai bisa membawa modal sosial yang berbeda, mulai dari jaringan relawan hingga dukungan pemilih baru yang tidak terikat langsung dengan PDIP.
“Rekrutmen itu menarik perhatian dan apakah ada partisipasi dari kalangan di luar kader PDIP, karena setiap ada kandidat dari luar kader kan pasti membawa sumber daya dan membawa jejaring suara dan jejaring relawan serta pendukung baru yang di luar PDIP,” ujarnya.
Diah Warih Sebut Langkah PDIP Strategis
Salah satu nama yang masuk bursa Pilkada Surakarta, Diah Warih Anjari, menilai langkah PDIP Surakarta itu sebagai keputusan yang tepat dan strategis. Pendiri ormas GNesia tersebut menyebut PDIP bergerak lebih cepat dibanding partai lain yang masih menghitung peluang.
“Langkah tepat dan strategis yang diambil PDIP ini konkrit. Di kala partai lain masih berhitung, PDIP sudah bergerak lebih gesit, beberapa langkah lebih maju,” kata Diah.
Ia juga menyoroti posisi PDIP yang masih sangat dominan di DPRD Kota Surakarta. Dengan 20 kursi legislatif, menurut dia, partai berlambang banteng itu punya ruang besar untuk menentukan arah koalisi, termasuk membuka kemungkinan kerja sama dengan partai lain, bahkan partai dari KIM (Koalisi Indonesia Maju).
“PDIP memiliki 20 kursi di legislatif. Bila ingin memperkuat posisi, PDIP bisa berkoalisi dengan partai lain pemilik kursi, bahkan partai dari KIM (Koalisi Indonesia Maju). Ini yang menjadikan pilkada Solo menarik,” katanya.
Terkait kemungkinan dirinya maju lewat PDIP, Diah mengatakan masih menunggu petunjuk dan arahan dari sejumlah pihak. Ia menegaskan keputusan itu tidak bisa diambil tergesa-gesa, meski mengaku siap jika diberi kesempatan.
“Terkait maju pilkada atau tidak, tentunya tidak bisa grusa-grusu dan kesusu (tergesa-gesa). Pasti kami harus mendengar masukan dari berbagai pihak dulu, baru bersikap. Pada prinsipnya saya siap, sudah siap lahir batin,” katanya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor: Tunggul Susilo
Copyright © ANTARA 2024
Source link

