Figur Prabowo dalam Tradisi Banyumasan
Seorang pemimpin kerap baru terlihat sejatinya ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja. Di titik krisis, yang diuji bukan hanya keberanian, tetapi juga ketenangan, daya tahan, dan kemampuan menjaga arah. Dari sudut itu, rekam jejak Prabowo Subianto kerap dibaca bukan semata sebagai perjalanan militer dan politik, melainkan sebagai gambaran kepemimpinan yang dibentuk oleh disiplin, tradisi, dan pengalaman panjang di medan yang keras.
Akar Banyumasan di Balik Figur Prabowo
Prabowo selama ini kerap menyebut dirinya sebagai “wong Kebumen”, sebuah penegasan yang menautkannya dengan tradisi Banyumasan di Jawa Tengah. Jejak kultural itu dapat ditelusuri dari sang ayah, Sumitro Djojohadikusumo atau Pak Cum, ekonom senior, mantan menteri, sekaligus pendiri Fakultas Ekonomi UI. Dalam sebuah wawancara dengan media nasional pada 1990-an, Sumitro bahkan pernah menyebut dirinya sebagai orang Banyumas dengan nada bangga dan blak-blakan.
Lahir di Kebumen pada 28 Mei 1917, Sumitro membawa latar budaya yang dikenal egaliter dan lugas. Tradisi Banyumasan berbeda dari kultur Jawa pusat seperti Yogyakarta dan Solo, terutama karena dialeknya tidak mengenal tingkatan bahasa seketat kromo inggil dan ngoko. Karakter itu sering dikaitkan dengan sikap terbuka, apa adanya, dan tidak berputar-putar dalam komunikasi sehari-hari.
Warisan Keluarga dan Jejak Militer
Dalam keluarga besar Djojohadikusumo, kebanggaan pada akar Banyumas tidak berhenti sebagai identitas simbolik. Dua adik Sumitro, yakni Letnan Satu Soebianto Djojohadikusumo dan Taruna Soejono Djojohadikusumo, ikut bergabung dengan TNI pada masa awal republik. Keduanya gugur dalam Peristiwa Lengkong pada 25 Januari 1946, tragedi yang kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah militer Indonesia.
Kenangan atas keduanya bahkan diabadikan dalam nama anak-anak Sumitro: “Subianto” untuk Prabowo dan “Sujono” untuk Hashim Sujono Djojohadikusumo. Hashim sendiri juga masih membawa jejak Banyumasan dalam penamaan holding perusahaannya, Tirta Mas Group, yang merujuk pada istilah yang akrab dalam kultur Banyumas.
Bagi Sumitro, Kebumen bukan sekadar kampung halaman. Saat membutuhkan konsentrasi tinggi untuk menulis atau menyusun gagasan, ia lebih nyaman berada di Kebumen daripada di rumahnya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Rumah di Kebayoran Baru itu kini dikenal sebagai kediaman pribadi Prabowo. Sumitro juga tercatat sebagai sesepuh paguyuban Seruling Mas, komunitas warga Banyumas di Jakarta.
Kopassus, Kostrad, dan Pelajaran Kepemimpinan
Nama Prabowo paling kuat melekat dengan Kopassus, satuan elite yang sebagian besar karier militernya ia habiskan di sana. Dari Kopassus hingga Kostrad, lalu ke panggung politik sebagai pendiri dan Ketua Umum Partai Gerindra, perjalanan Prabowo kerap dibaca sebagai kesinambungan antara disiplin militer dan kepemimpinan sipil.
Hari jadi ke-72 Kopassus pada 16 April 2024 menjadi momen yang relevan untuk melihat kembali jejak itu, terlebih menjelang pelantikan Prabowo sebagai Presiden RI pada 20 Oktober 2024. Di tubuh Kopassus sendiri, figur-figur kuat memang kerap lahir dan kemudian mewarnai politik nasional. Sarwo Edhi Wibowo dan Prabowo Subianto disebut sebagai dua komandan yang paling menonjol dalam ingatan publik.
Pengalaman yang paling membekas bagi Prabowo terjadi saat reorganisasi Kopassus pada pertengahan 1985. Ketika itu, ia baru bergabung di Kostrad sebagai Wakil Komandan Batalyon Lintas Udara 328/Kujang II Kostrad. Dalam upacara penggantian baret di Makassar, para prajurit melepas Baret Merah Kopassus dan beralih ke Baret Hijau Kostrad. Bagi banyak prajurit, momen itu tidak ringan: baret merah yang selama ini menjadi lambang kebanggaan harus dilepas dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Prabowo, peristiwa semacam itu menjadi pelajaran bahwa kepemimpinan bukan hanya soal memerintah, tetapi juga menjaga martabat anak buah saat perubahan tak terhindarkan. Di situlah sisi keras sekaligus manusiawi seorang pemimpin diuji, persis seperti yang tercermin dalam perjalanan panjang figur Prabowo dari lingkungan Banyumasan, dunia militer, hingga panggung politik nasional.
*) Dr Taufan Hunneman adalah dosen di UCIC, Cirebon
Copyright © ANTARA 2024
Source link

