Proyek solo baru Erlangga Ishanders, musisi multi-instrumentalis asal Jakarta yang akrab disapa Angga, resmi dimulai lewat nama ERL. Di fase awal perjalanan ini, ia langsung melepas EP debut bertajuk self-titled yang juga akan hadir dalam format kaset melalui Pitahitam Records. Langkah tersebut menandai babak baru setelah sebelumnya Angga dikenal lewat eksplorasi musik raga/psychedelic, kali ini dengan pendekatan yang lebih lebar terhadap referensi bunyi yang sejak kecil membentuk selera musikalnya.
Sitar Masih Jadi Pusat, Tapi Pendekatannya Berbeda
Dalam rilisan terbaru ini, sitar tetap menjadi tulang punggung musik ERL. Namun Angga tidak sekadar mengulang formula lama. Ia justru mencoba menyederhanakan sekaligus memperluas cara kerja instrumen itu lewat berbagai referensi permainan yang berbeda. Menurutnya, ada ketertarikan pada cara sitar dipadukan dengan lud atau gambus dalam tradisi tertentu, yang ia anggap lebih liar dan bebas. Dari situ, ia melihat bagaimana musik raga bisa dimaknai dengan energi yang lebih lepas, nyaris seperti benturan karakter antara “sapi & unta” yang saling bermain.
Jejak Arcade, Animasi, dan Imajinasi Kolosal
Di luar pengaruh musik tradisi, EP ini juga dibangun dari memori masa kecil Angga terhadap soundtrack game arcade dan animasi klasik. Ia menyebut judul-judul seperti Golden Axe serta Transformer (Hasbro) sebagai rujukan yang meninggalkan kesan kuat, terutama karena komposisi temanya yang rumit dan ikonis. Nuansa kolosal pun ikut masuk ke dalam materi lagu, dengan bayangan adegan heroik ala serial atau anime lawas. Angga menggambarkan atmosfer itu seperti momen ketika tokoh utama berada di puncak konflik, lengkap dengan lampu indikator kekuatan yang berkedip-kedip.
Empat Lagu, Satu Cerita Visual
EP perdana ERL berisi empat lagu, yaitu “Rekah Festival Mawar”, “Serial Masa”, “Dari”, dan “Telenovetron”. Di saat yang sama, ERL juga menyiapkan video musik untuk single “Dari” bersama seniwati Candrika Soewarno lewat bendera produksi Gila Ketemu Gila. Kolaborasi ini lahir dari ketertarikan Angga pada salah satu karya Candrika, yakni gambar kaos berjudul “Akhir Dari Sebuah Kenikmatan” yang menampilkan pasangan pria-wanita. Dari sana, lahir pengembangan karakter bernama Erni dan Johan, yang kemudian dipertemukan dengan lagu “Dari”.
Tak berhenti di situ, ERL dan Candrika turut menggandeng seniman gambar Bagus Alit untuk mengubah sosok pasangan tersebut menjadi bentuk wayang dengan latar Bundaran HI. Visual itu akan hadir dalam video musik “Dari”, yang menurut Angga menceritakan sebuah misteri yang harus dijalani Erni dan Johan. Seluruh instrumen dalam rekaman dimainkan sendiri oleh Angga, dengan bantuan Hatta Mahalli pada drum dan perkusi, serta Juan pada bass. Proses produksi dilakukan di studio Kamar Angga.
EP ERL akan dirilis dalam format kaset oleh Pitahitam Records dan segera tersedia di berbagai platform streaming digital. Bersamaan dengan itu, kanal YouTube Gila Ketemu Gila Production juga akan menayangkan video live session ERL yang membawakan seluruh materi EP, sekaligus video musik single “Dari”.
Source link

